Minggu, 06 Maret 2011

MEMBACA SEBAGAI PROSES PERKEMBANGAN KETRAMPILAN


            MEMBACA SEBAGAI PROSES PERKEMBANGAN KETRAMPILAN    
           
           


Telah dilukiskan secara cukup panjang lebar bahwa membaca itu merupakan latihan yang sangat kompleks yang sangat tergantung pada bermacam-macam  faktor. Sifat proses perkembangan ketrampilan itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

    *

      Ketrampilan itu objektif. Satu di anatara hal yang mula-mula kita sadari waktu meneliti proses perkembangan ketrampilan membaca ialah bahwa perkembangan ketrampilan membaca itu bersifat objektif. Hal tersebut dipandang objekif karena dalam perkembanganya tidak tergantung pada materi, metode, ataupun tingkatan-tingkatan akademis. Pandangan seperti itu tidak mempunyai arti penolakan terhadap adanya ketrampilan membaca dalam proses yang sangat erat kaitannya.

      Satu bagian terenting dari proses perkembangan itu ialah identifikasi ketrampilan yang akan diajarkan. Jika ketrampilan tertentu sudah dapat diidentifikasi, satu dari sejumlah metode yang demmikian banyak yang akan dipakai sudah dapat digunakan untuk mengajar anak. Seorang anak mungkin akan dapat belajar melalui program visual; anak yang lain akan merasakan kemudahan belajar membaca itu melalui penglihatan; dan yang lain melalui kinestik. Meskipun buku bacaan permulaan menyajikan materi yang layak, Anda mungkin mempunyai keinginan untuk menggunakan surat kabar, majalah, dan katalog untuk mengajarkan membaca kepada pembaca dewasa.

      Anda tahu bahwa perkembangan ketrampilan itu tidak terikat pada materi dan metode tertentu atau pun pada tingkatan kelas. Pada hakikatnya, ketrampilan itu adalah ketrampilan. Kita tidak mengenal ketrampilan anak peringkat kata satu atau anak kelas enam atau kelas delapan. Berdasarkan hal tersebut, Anda sebagai guru dituntut untuk menyadari seluruh ketrampilan. Supaya sampai pada faktor-faktor yang diperlukan anak pada suatu tingkat perorangan, Anda harus mengetahui ketrampilan yang mana yang kan mendahului ketrampilan yang sedang diajarkan itu dan ketrampilan mana yang mengikutinya.
      
    *

      Ketrampilan itu mempunyai sifat berlanjut. Meskipun ketrampilan itu tidak terikat pada tingkatan kelas anak, namun kaitannya tetap tampak. Ini tidak berarti bahwa Anda harus mengajarkan konsonan awal sebelum mengajarkan konsonan akhir, tanda titik sebelum tanda tanya, atau membaca fakta sebelum membaca untuk mencari ide utama. Anak akan mampu mencari materi sumber secara mandiri setelah menguasi ketrampilan-ketrampilan prasyarat.
      
    *

      Ketrampilan itu digeneralisasikan. Di samping objektif dan bertahap, ketrampilan itu bersifat tergeneralisasikan. Ketampilan dasar dalam membaca dapat digeneralisasikan sehingga anak yang telah menguasai ketrampilan tersebut dituntut untuk menerapkannya kapan saja dan di mana m saja jika situasinya menghendaki penggeneralisasian itu. Jika anak telah menguasai cara memahami kata secara mandiri, baginya tidak akan merupakan masalah di mana pun kata itu berada, baik dalam teks matematika, buku latihan geografi, atau pun di dalam sebuah novel. Penggunaan konteks kalimat dalam upaya memahami makna kata merupakan ketrampilan yang sama dan tidak terikat pada pelajaran yang mana pun.

Dalam perkembangan ketrampilan  dikenal tahapan-tahapan, atau tngkatan-tingkatan. Kata tahapan dan tingkatan dalam pembicaraan tentang proses perkembangan ketrampilan tidak mempunyai arti tingkat-tingkat yang berlainan makna. Seorang anak tidak perlu berhenti berkembangan untuk ketrampilan tertentu karena dia harus mulai mengembangkan ketrampilan lainnya.

    *

      Dasar proses perkembangan ketampilan ialah perkembangan konsep. Hal tersebut mulai dengan penglaman anak yang mula-mula sekali yang terus berkembang seumur hidupnya. Perkembangan konsep itu merupakan prasyarat untuk membaca, sama juga halnya untuk menyimak dan berbicara. Pengembangan konsep itu merupakan bank pengetahuan yang bagi anak berfungsi sebagai tempat menyimpan dan mengambil informasi secara terus-meneus. Dalam pertumbuhannya itu anak-anak tumbuh dan berubah, demikian juga pebendaharaan konsepnya akan terus tumbuh dan berubah-ubah.

      Pertumbuhan dan perubahan konsep anak banyak bergantung pada latar belakang pengalamannya. Anak yang mmpunyai semacam lingkungan saja, tingkat komunikasi yang itu-itu juga, serta pengalaman yang sejnis, akan tehambat perkmbangan kosakatanya. Anak mengenalmakna kata-kata itu mellui pendengaran penggunaannya dan upaya menggunakannya sendiri.
    *

      Tahap perkembangan yang kedua merupakan pengenalan danidentifikasi. Pada waktu anak membina dasar-daar konsep yang pertama dia mulai pula menghubungkan konsep-konsepnya itu dengan stimuli tertentu. Contoh yang jelas mengenai hal ini dalam keiatan membeca ilah pengenalan huruf dan kata. Dia belajar menghubungkan huruf dan kata atau kombinasi huruf dan kombinasi kata itu dengankonsep-konsep yang bermakna baginya. Jika dia brhasil mengkombinsikankeduanya itu, ialah stimulus dan konsep, maka dia pun memperoleh makna dari pengalamannya itu.
    *

      Tahapankeiga perkembangan itu merupakan interpretasi mengenai informaasi . Anda tentutahubahwa anak sudah mulai dengankegiatan menginterpretasikan informasi itu sejakawal proses, meskipun upayanya itu belum jelas., Dalam hal kita perlu membedakan dua interpretawsi: yang literal dan yang inferensial. Interpretasi literal ialah interpretasi fakta keika faka  itu dihadapkan . Contoh interpretasi literal yang merupakan ketrampilan pemahaman tampak pada kaliamat dan pertanyaa di bawah ini.

      Colombus menemukan benua Amerika tangga 12 Oktober 1492.

      (1) Siapakah yang menemukan benua Amerika?
      (2) Kaankah Colombus menemukan Amerika?
      (3) Negri apaka yang ditemukan Colombus?

Meski kkedua contoh itu terlalu disederhanakan, bentuknya sama dengan tes untuk mengetahui interpretasi literal. Anda melihat bahwa tuagas tersebut lebih dari menyuruh mencocokkan fakta dan pertanyaan. Jika anak tidak diizinkan melihatk kembali kalimat-kalimat stimulus, berarti kita telah memasukkan unsur ingatan ke dalamnya. Pernyataan stimulus yang sama boleh digunakan sebagai dasar pertanyaan  yang bersifat inferensial, seperti, Menurut pikiranmu, bagaimana kira-kira perasaan Colombus saat melihat Amerika pertama kali? Pertanyaan yang terakhir ini mengubah isi harapan, oleh sebab itu, mengubah pula penugasannya.

Perbedaan utama antara interpretasi literal dan interpretasi inferensial terletak pada harapan siswa itu sendiri. Sifak ekstrinsik seperti yang tampak pada ketiga pertnyaan dan sifat intrinsik seperti tampak pada pertanyaan terkahir merupakan hal perlu dipahami. Untuk melukiskan perbedaan antara inerpretasi literal dan interpretasi inferensial cobalah perhatikan paragraf berikut ini dan pertanyaan-pertanyaan yang mengikutinya yang bersifta inferensial.

      Joko menaruh sepeda barunya  di trotoar persis di depan rumah Kino. Kino melihat-lihat sepeda itu. Dia ingin benar memiliki sepede baru seperti itu. Kepunyaanya sudah tidak keruan catnya, bunyi-bunyi berdenyit dan gemeretak pun terdengar jika Kino menaikinya. Akan tetapi, sepeda baru sangat mahal sekarang, sedangkan Kino sangat miskin.

      Pertanyaan

      (1) Bagaimana kamu tahu bahwa Kino tidak punya seeda baru?
      (2) Dimanakah ceita iotu terjadi?
            a. di desa
            b. di kota
            c. di daerah perkebunan

      (3) Menurut pikianmu,apa sebababnya Joko mau supaya Kino melihat seepeda barunya
            itu?

Bagaiman pendapat anda tentang pertanyaan-pertanyaan di atas itu ? Memang benar, untuk menjawab ketiga pertanyaan itu diperlukan tiga macam informasi. Ada tiga macam informasi untuk menjawab pertanyaan yang pertama : (1) Kino ingin sekali sepeda baru ; (2) Sepeda Kino sudah berbunyi-bunyi dan tidak keruan lagi catnya; dan Kino sangat miskin.

Untuk menjawab pertanyaan kedua, hanya ada informasi yang bisa digunakan. Baik di desa maupun di perkebunan tidak ada trotoar. Oleh sebab itu, dapatlah dipastikan bahwa kejadian itu berlangsung di kota.

Terhadap pertanyaan ketiga tidak ada jawaban yang benar yang bisa diberikan . Kita tidak mempunyai fakta sebagai dasar jawaban kita. Dalam hal ini setiap jawaban yang logis haruslah dianggap benar. Jawaban kita mungkin mencerminkan pengalaman yang mempunyai kesamaan dengan alasan untuk menunjukkan benda baru yang kita miliki.

Dengan demikian inferensi itu meliputi interpretasi dan kombinasi fakta dan pengalaman apapun yang kita miliki yang dapat kita gunakan untuk memenuhi harapan kita. Pada suatu waktu tertentu inferensi itu bisa meliputi analogi, pengenalan, interpretasi, dan terjemahan atas suatu fakta. Pada waktu lain lagi inferensi itu bisa menuntut kita untuk memintasi pengalaman pribadi pada waktu berupaya untuk mengidentifikasi secercah informasi yang mempunyai relevansi dengan harapan.

Tahap proses perkembangan ketrampilan yan keempat ialah aplikasi dan generalisasi. Meskipun akan sudah memiliki dasar konsep yang boleh dikatakan layak dan menguasai ketrampilan-ketrampilan yang terlibat ke dalam rekognisi atau pengenalan, identifikasi, dan interpretasi informasi, prosesnya belum tentu lengkap. Dia boleh jadi belum memiliki kemampuan untuk menerapkan dan menggeneralisasikan ketrampilan dan informasi yang diperolehnya itu. Dia tidak akan sampai pada taraf pembaca yang mandiri sebelum memiliki kemampuan tersebut.

Kita dapat melihat contoh-contoh penerapan dan generalisasi itu pada setiap tahapan proses perkembangan. Generalisasi dan interpretasi itu merentang dari pengenalan, seperti pengenalan ciri-ciri melati, ros dan kenanga sebagai bunga, c kecil, C kapital dan c tulisan tangan itu dibunyikan sama. Kemampuan anak itu belum cukup jika berhenti pada pengenalan. Dia baru boleh dianggap menguasai informasi itu jika sesudah mengenalnya mampu pula mengaplikasikannya dan menggeneralisasikannya.








Artikel:
BAGAIMANA MENINGKATKAN MUTU HASIL PELAJARAN BAHASA INGGRIS DI SEKOLAH

Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum.
Nama & E-mail (Penulis): Diba Artsiyanti Ediyana Putri
Saya Guru di PIKMI Ganesha
Tanggal: 2 Maret 2002
Judul Artikel: BAGAIMANA MENINGKATKAN MUTU HASIL PELAJARAN BAHASA INGGRIS DI SEKOLAH
Topik: Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah

Artikel:
Diba Artsiyanti E.P. , S.S.

Kemampuan berbahasa Inggris merupakan salah satu kemampuan yang sangat menentukan dalam memperoleh lapangan kerja akhir-akhir ini. Fenomena inilah yang mendasari munculnya berbagai macam kursus Bahasa Inggris di seluruh wilayah Indonesia. Terlepas dari bagaimana sesungguhnya mutu dari kursus-kursus Bahasa Inggris yang ada di Indonesia ini, tersirat suatu keadaan yang memprihatinkan yaitu kurang baiknya mutu hasil pengajaran Bahasa Inggris di sekolah-sekolah.

Mengapa penulis mengambil kesimpulan demikian? Tentunya bukan tanpa dasar. Secara logika, kita dapat mengajukan argumentasi bahwa tidak mungkin kursus-kursus Bahasa Inggris sedemikian menjamurnya di Indonesia jika hasil pengajaran Bahasa Inggris di sekolah ternyata memuaskan. Jika demikian halnya, maka kursus Bahasa Inggris yang ada hanyalah yang ditujukan untuk kepentingan-kepentingan khusus seperti untuk memperoleh sertifikat TOEFL, IELTS, dan lain-lain serta bukan yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Tapi kenyataannya, mayoritas kursus Bahasa Inggris yang ada adalah yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari, bukan untuk tujuan-tujuan lain.

Keadaan ini tentunya menimbulkan masalah. Bagi para siswa yang datang dari keluarga menengah ke atas, masalah kesulitan berbahasa Inggris ini dapat diatasi dengan mudah. Mereka tinggal menunjuk kursus Bahasa Inggris mana saja yang mereka suka dan mulai belajar. Tetapi, bagaimana halnya dengan para siswa yang berasal dari kalangan bawah? Hal ini tentunya merupakan kesulitan tersendiri karena, kadang-kadang, jangankan untuk membayar uang kursus, untuk makanpun mereka masih harus mencari uang selepas sekolah. Lalu apa dampaknya? Tentu sangat jelas. Karena perusahaan-perusahaan papan atas yang ada di negara ini selalu mencantumkan persyaratan kemampuan berbahasa Inggris sebagai salah satu syarat untuk menjadi karyawan di perusahaan tersebut, maka hilanglah kesempatan para siswa yang berasal dari kalangan bawah ini untuk dapat masuk ke wilayah kerja yang dapat memberikan penghasilan yang lebih besar. Mereka akhirnya hanya dapat bekerja di perusahaan-perusahaan kecil yang tidak mensyaratkan kemampuan berbahasa Inggris dengan gaji yang sangat jauh tingkatannya dengan perusahaan asing. Dengan demikian, taraf kehidupan mereka tentunya tidak akan jauh berbeda dengan taraf kehidupan orang tua mereka sebelumnya.

Dengan memandang alasan-alasan tersebut di atas, apakah kita sebagai guru Bahasa Inggris tidak tergerak untuk berupaya meningkatkan kemampuan siswa berbahasa Inggris melalui pelajaran Bahasa Inggris di sekolah? Sebagai kalangan yang sering disebut-sebut sebagai Pahlawan tanpa Tanda Jasa, sangatlah tidak layak jika kita ingin dianggap sebagai pahlawan tetapi tidak berupaya untuk memajukan siswa-siswa kita. Di tengah-tengah munculnya fenomena segelintir guru-guru yang mengejar materi untuk kepentingan pribadi dengan memanfaatkan muridnya, marilah kita usik kembali jiwa pengabdian kita untuk berupaya meningkatkan hasil pengajaran Bahasa Inggris di sekolah agar siswa-siswa kita yang berasal dari kalangan bawah tidak semakin terpuruk dan tidak akan kalah dari siswa-siswa lain yang berasal dari kalangan berada.

Masalah-Masalah yang Timbul dalam Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Jika kita renungkan lebih dalam, adalah hal yang sangat luar biasa bahwa siswa yang telah belajar Bahasa Inggris selama minimal 6 tahun (sejak SMP) setelah lulus SMA masih tidak dapat berbicara dalam Bahasa Inggris, bahkan untuk memperkenalkan diri sendiri sekalipun. Disebut luar biasa karena jika siswa tersebut mengikuti kursus general english di suatu lembaga kursus dalam waktu yang sama, maka dapat dipastikan siswa sudah sangat mampu berbincang-bincang dalam Bahasa Inggris, bahkan mungkin sudah dapat memahami Bahasa Inggris untuk tingkatan drama, puisi, dan lain-lain. Jadi, mengapa hal ini bisa terjadi?

Berdasarkan hasil pengisian kuestioner yang penulis pernah buat pada tahun 1996 untuk tugas kuliah, terdapat beberapa masalah yang, menurut para siswa, menghambat mereka untuk menguasai Bahasa Inggris. Masalah-masalah tersebut adalah:

      1. Jarangnya guru berbicara dengan Bahasa Inggris di dalam kelas. Hal ini dirasakan menghambat oleh para siswa karena menurut mereka, mereka jadi tidak terbiasa mendengar orang lain berbahasa Inggris.
      2. Pelajaran terlalu ditekankan pada tata bahasa (dan bukan pada percakapan), tetapi siswa jarang diberi arahan mengenai bagaimana dan apa fungsi dari unsur-unsur tata bahasa yang mereka pelajari tersebut.
      Berdasarkan hasil kuestioner dan hasil tes pada para siswa, terlihat bahwa rata-rata siswa menguasai pola-pola tata bahasa Inggris (misalnya struktur untuk simple present tense, dan lain-lain) tetapi, SISWA TIDAK MENGETAHUI KAPAN STRUKTUR TERSEBUT HARUS DIGUNAKAN DAN BAGAIMANA PENGAPLIKASIANNYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI. Ini merupakan hal yang sangat luar biasa karena Bahasa Inggris, sama halnya seperti Bahasa Indonesia, akan lebih bermanfaat jika dapat digunakan dan diaplikasikan meskipun secara tata bahasa siswa tidak terlalu menguasainya. Bukan berarti bahwa pembelajaran tata bahasa ini tidak penting, tetapi perlu sekali teori-teori tersebut dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
      3. Kosa kata yang diajarkan tidak terlalu berguna dalam percakapan sehari-hari. Banyak siswa yang mengeluhkan bahwa kata-kata yang diberikan oleh guru Bahasa Inggris di sekolah terlalu bersifat teknis, misalnya mengenai industrialisasi, reboisasi, dan lain-lain, sementara siswa tetap saja mengalami kesulitan untuk mengartikan kata-kata yang banyak digunakan pada film, majalah, dan situs-situs internet berbahasa Inggris. Bahkan kadang-kadang, siswa sangat hapal istilah-istilah Bahasa Inggris untuk bidang politik (seperti misalnya reformation, globalization, dan lain-lain) tetapi tidak dapat menyebutkan benda-benda yang biasa mereka pakai sehari-hari dalam Bahasa Inggris (misalnya celengan, selokan, dan lain-lain). Beberapa kalangan siswa bahkan mengatakan bahwa dengan kosa kata seperti yang dipelajari di sekolah tidak mungkin siswa dapat memulai percakapan dengan orang asing dengan menggunakan Bahasa Inggris. Mungkin ada benarnya juga, tidak mungkin tentunya kita tiba-tiba mengajak orang yang baru kita kenal untuk mendiskusikan industrialisasi, misalnya.
      4. Materi pelajaran Bahasa Inggris di SMP dan SMU tidak berkesinambungan Para siswa menyatakan bahwa sering terjadi pengulangan materi (seperti misalnya tenses) yang telah diajarkan di SMP di tingkatan SMU, tetapi tetap saja fungsi dan pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari kurang jelas.

Jadi, sebagai seorang guru Bahasa Inggris, apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut? Banyak tentunya, karena diakui atau tidak, gurulah yang memegang kendali dalam pengajaran. Yang jelas, kita tidak boleh hanya menyalahkan pihak pemerintah (yang membuat kurikulum) saja tetapi akan lebih baik jika kita mengintrospeksi diri sendiri dan lebih menggali lagi potensi kita untuk mencari pendekatan yang lebih berhasil dalam mengajarkan Bahasa Inggris pada siswa di sekolah.

Kesimpulan dan Saran
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa masih banyak kendala yang harus dihadapi dalam upaya meningkatkan mutu hasil pengajaran Bahasa Inggris di sekolah. Untuk itu, penulis memiliki beberapa saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi para sesama pengajar Bahasa Inggris di Indonesia.

      1. Selalu pertahankan kemampuan kita bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris agar kelancaran berbahasa tetap terjaga. Hal ini perlu karena dapat memotivasi murid-murid kita untuk dapat berbicara dengan lancar. Mungkin sulit sekali jika kita tidak pernah bertemu dengan orang yang juga dapat berbahasa Inggris. Oleh karena itu, penulis memiliki usul agar para guru Bahasa Inggris ini memiliki semacam klub (conversation club) untuk ajang bertemu dan bertukar pikiran antar sesama guru Bahasa Inggris di wilayah yang sama. Dengan demikian, keahlian kita dalam menggunakan Bahasa Inggris akan selalu tetap terjaga.
      2. Selalu menekankan fungsi dan aplikasi dari semua unsur tata bahasa yang kita terangkan kepada siswa. Pastikan bahwa siswa benar-benar mengerti kapan mereka harus menggunakan struktur tersebut.
      3. Berikan tambahan kosa kata yang akan bermanfaat untuk percakapan sehari-hari pada siswa dan perkenalkan siswa dengan majalah-majalah remaja berbahasa Inggris agar mereka menjadi gemar membaca dan memperoleh banyak tambahan kosakata dari majalah tersebut. Dengan demikian, siswa akan percaya diri jika harus bergaul dengan remaja asing yang berbahasa Inggris.
      4. Meskipun kita tidak memiliki kekuasaan untuk mengubah kurikulum, setidaknya pastikan bahwa pengulangan materi yang kita berikan merupakan pendalaman mengenai apa yang sudah dipelajari siswa dan bukan hanya mengulang tetapi tidak membuat siswa semakin bisa menerapkannya.

Demikian beberapa saran yang mungkin dapat bermanfaat untuk kita semua. Penulis akan merasa sangat senang jika artikel ini dapat menjadi pembuka forum tukar pendapat untuk para guru Bahasa Inggris. Semoga apa yang telah dipaparkan di atas memberikan manfaat bagi kita semua.

Saya Diba Artsiyanti Ediyana Putri setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

CATATAN:
Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.

Pendidikan-DasarSekolah-MenengahPerguruan-TinggiCari-PekerjaanTeknologi&PendidikanPengembangan-Sekolah



Print Halaman Ini



           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar